Pukul 06.30.
Koridor SMAI Cikal Harapan 2 telah dipenuhi oleh siswa-siswa yang berkerumun. Kali ini tujuan mereka bukan menuntut ilmu sepertinya, melainkan untuk bercerita. Mereka sibuk menceritakan perjalanan istimewa selama liburan akhir tahun kemarin.
"Hey, Nad! Lo apa kabar?" Sapa Karin yang baru saja datang dari arah pintu masuk, terlihat centil dan ceria. Seperti biasa penampilannya sangat rapi dan bersih. Dari penampilannya saja sudah terlihat kalau ia gadis yang feminim. Harum tubuhnya bahkan bisa dirasakan oleh orang di radius 100 meter. Super sekali!
"Eh, Kar! Baik, nih! Lo sendiri gimana? Sehat? Tumben siang." Jawab Nada lembut, sedikit menggoda atas "ketumbenan" Karin. Nada anak yang baik, pendiam, dan cerdas. Ia pindahan dari Mojokerto. Tidak heran kalau caranya bicara sedikit medok, walaupun sudah mulai terbiasa dengan cara bicara orang kota.
"Baik, dong! Kapan sih seorang Karin gak sehat? Haha... Iyanih tadi bunda telat, biasaaaa kelamaan dandan. Untung masih keburu. Kalo telat bisa mencoreng ke-famous-an gue. Gue kan terkenal sebagai anak teladan. Hahahaha..." Jawab Karin pede. Padahal Karin terkenal genit dan cerewet, bukan anak teladan. Kepercayadiriannya memang di atas rata-rata.
"Haha oh gitu... Yaudah kita ke kelas, yuk! Pegel nih berdiri terus." Nada yang sedari tadi menahan pegal akhirnya angkat bicara.
"Hm... Kebiasaan, deh! Dasar tukang duduk! Berdiri bentar aja pegelnya kambuh." Karin menjawab asal. "Oke deh ayo!" Karin mengedipkan matanya. Nada dan Karin lantas berjalan bersama ke arah kelas X.1. IPA sambil curhat tentang liburan masing-masing. Tetapi sebelum memasuki kelas, keduanya menaruh sepatu masing-masing di rak sepatu yang telah disediakan. Sekolah mereka memang tidak mengizinkan siswanya memakai sepatu ke dalam kelas. Bahkan di koridor sekalipun.
***
Tak ada yang sadar bahwa di ujung koridor ada sosok asing. Semua siswa terlalu sibuk dengan ceritanya masing-masing.
"Duh aku harus kemana, ya?" Gumam sosok itu dalam hati. Ia bingung. Sejujurnya ia tidak terbiasa dengan keramaian. Rasanya canggung.
Tiba-tiba ia merasa bahunya ditepuk seseorang. "Hey!" Ia melonjak kaget. Segera berbalik arah. Belum sempat ia menjawab, si "penepuk bahu" itu telah melontarkan bertubi-tubi pertanyaan. "Lo anak baru, ya? Asal mana? Pindahan dari sekolah mana? Tadinya gue kira lo anak sini, pas gue perhatiin ternyata muka lo asing. Hebat juga penyamaran lo, haha..."
Orang asing itu cengo. Ia heran kok ada orang yang mampu bicara sepanjang itu hanya dalam satu tarikan napas. "Kayaknya orang ini kelewat ramah." Batinnya.
"Eh ko bengong, sih? Jawab, dong! Kenalin nama gue Bagas, nama lo siapa?" Bagas mengulurkan tangannya. Orang asing itu lantas menyambut uluran tangan Bagas.
"Nama saya Fawwaz, Mas! Betul saya anak baru disini, pindahan dari Jowo." Jawabnya dengan logat Jawa yang kental. Membuat Bagas tak sanggup menahan tawa.
"Haha... Medok banget sih lo! Kocak!" Bagas cekikikan.
"Wong dari sononya e, Mas!" Jawab Fawwaz polos.
Bagas masih tertawa renyah. "Haha... Iyadeh, iya... Eh by the way gue ke kelas dulu ya Waz!"
"Tunggu, Mas! Mau tanya, ruang TU dimana ya?"
"Lo ngerti bahasa indonesia ga, sih?" Bagas bertanya serius.
"Lho memangnya kenapa, Mas?"
"Baca, tuh!" Bagas menunjuk papan di dekat kepalanya yang bertuliskan Ruang Tata Usaha.
"Haha... Oh iya ya, Mas! Ora ndelo' aku (aku gak lihat). Makasih yo, Mas!"
"Yoi." Ujar Bagas sambil mengacungkan ibu jarinya. Ia berlalu menuju kelasnya.
"Baca, tuh!" Bagas menunjuk papan di dekat kepalanya yang bertuliskan Ruang Tata Usaha.
"Haha... Oh iya ya, Mas! Ora ndelo' aku (aku gak lihat). Makasih yo, Mas!"
"Yoi." Ujar Bagas sambil mengacungkan ibu jarinya. Ia berlalu menuju kelasnya.
***