SANG MUSAFIR
Karya: Sadik Yalsizuçanlar
Oleh:
Nama: Siti Robi’ah
Kelas: 10
YAYASAN PERMATA SARI
SMA ISLAM CIKAL HARAPAN 2
Citra
Indah City Jalan Raya Cileungsi-Jonggol km. 23,2, Bogor 16830
2016
LEMBAR PENGESAHAN
Resensi
novel Sang Musafir
Disahkan dan disetujui pada:
Hari :________________________
Tanggal :________________________
Menyetujui,
Pembimbing Akademik,
Atik Ilmana, S.Pd
NIK.
E14H6-030
Pembimbing
Resensi,
Atik Ilmana, S.Pd
NIK.
E14H6-030
RESENSI BUKU SANG MUSAFIR
A.
Identitas
Buku
Judul buku : Sang Musafir
Penulis buku : Sadik Yalsizuçanlarini
Penerbit buku : Noura Books (PT. Mizan Publika)
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2015
Tebal buku : 321 halaman
Tebal buku : 13 x 20,5 cm
Jumlah halaman : 332
Cetakan :
Pertama, Februari 2015
B. Sinopsis
Novel
Sang Musafir merupakan novel terjemahan karangan Sadik Yalsizuçanlarini yang diterjemahkan
ke beberapa bahasa. Salah satunya bahasa Indonesia. Inge Suhono—penerjemah
Indonesia—berhasil menerjemahkan dengan bahasa yang tidak mengurangi keindahan
gaya bahasa sang pengarang.
Pada abad ke 13 M, sejarah merekam kehidupan dua manusia agung yang
dilahirkan tanah sarat keajaiban, mitos dan misteri, Andalusia (kini Spanyol)
yang mengagumkan. Keduanya tampil ke muka peradaban Islam sejak belia. Mereka
adalah Ibn Rusyd dan Ibn ‘Arabi. ‘Sang Musafir’ dalam buku ini adalah Ibn
‘Arabi dan ‘Sang Filsuf’ adalah Ibn Rusyd.
Dalam dunia
mistik Islam, Ibn ‘Arabi atau Sang Musafir, lebih dikenal sebagai Syaikh
Al-Akbar. Gelar agung dari nama lahir yang disandangnya, 'Abū 'Abdillāh
Muḥammad ibn 'Alī ibn Muḥammad ibn `Arabī. Ia lahir di Murcia, Seville,
Andalusia, pada 17 Ramaḍhān 560 H atau 25 Juli 1165 M.
Selain kedua tokoh besar tersebut, ada juga Fatimah
yang merupakan ibu angkat Sang Musafir yang sangat mulia. Kedekatannya dengan Tuhan tak perlu ditanya, karena tidak ada orang yang sanggup menggambarkannya. Meski umurnya telah menginjak kepala sembilan,
kecantikan dan kelembutan wajahnya mengatakan bahwa usianya masih 20-an.
Bahkan Ibn ‘Arabi
pun merasa terpana jika melihat wajah ibunda asuhnya itu.
Fatimah merasa anak asuhnya itu adalah calon orang
besar. Bahkan di umurnya yang masih sangat muda, ia telah dimabuk cinta Yang Maha Kuasa.
Sungguh manusia yang
langka.
Berikut adalah sinopsis singkatnya:
Kabar itu sungguh
menggelisahkan Sang Filsuf—Ibn Rusyd. Mimpi mistikal yang dialami pemuda 19
tahun itu—Sang Musafir-- jadi buah bibir di Seville, meluas hingga ke Fez di
Maroko. Lalu, harapan Sang Filsuf merekah saat pemuda yang lebih senang menjadi
musafir itu mengunjunginya. Namun malang bagi Sang Filsuf, usai Pertemuan Agung
tersebut, ia justru menanggung derita kesedihan—galaba—tak terperi karena
jawaban yang dilontarkan Sang Musafir.. Sang Musafir membenamkan pencapaian
falsafahnya hanya dengan tiga kata, “Ya,” “Ya,” dan “Tidak.”
Jadi, itu sajakah
C. Kelebihan
Setelah
membaca novel karya Sadik Yalsizuçanlarini
ini, terdapat beberapa kelebihan yang saya temui, yaitu:
1.
Kisah
bertema perjalanan yang terinspirasi dari kisah Ibn ‘Arabi dan Ibn Rusyd ini
membuat saya tertarik untuk membacanya sejak pertama kali saya melihat namanya
di cover belakang buku. Jujur saya
belum pernah menjumpai nama Ibn ‘Arabi tetapi telah sering mendengar nama Ibn
Rusyd dari kisah-kisah ahli ilmu pengetahuan dan teknologi islam. Maka dari
itu, rasanya buku ini sangat memikat minat baca saya. Bahkan setelah saya
membaca buku ini saya semakin mencintai sosok Ibn Rusyd dan terutama sang tokoh
utama, Ibn ‘Arabi.
2.
Cara Sadik Yalsizuçanlarini menulis kisah
kehidupan kedua tokoh besar tersebut sangat halus dan berhasil mengguratkan
kisah tersebut dengan epik dan modern.
3.
Bagi penjelajah mistik Islam, novel ini menyuguhkan
secara gamblang visi Ibn ‘Arabi. Tentang perjalanan spiritualnya mencapai
kematangan ruhani menjadi Manusia Sempurna (al-Insan al-Kamil).
4.
Kekuatan novel ini terletak pada kemampuan luar biasa
Sadik menggunakan anekdot, gambar, perumpamaan, teka-teki misteri, kedalaman
filosofis, modernitas, yang semuanya meluap dalam narasi puitis.
5.
Penggambaran latar tempat dalam novel
ini sangat jelas dan gamblang sehingga membuat saya selaku pembaca mudah
berimajinasi.
6.
Novel ini menggabungkan dua dunia besar
yaitu dunia filsafat dan dunia sastra. Ini sungguh mengagumkan. Saya telah
beberapa kali membaca buku semacam ini. Salah satunya adalah novel Dunia Sophie
karya Jostein Gaarder.
7.
Walaupun ini adalah novel terjemahan
tapi tidak merusak keindahan bahasa yang seharusnya ada padanya.
8.
Ukuran buku, jenis font, dan ukuran font cukup
baik karena tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil sehingga tidak
mengganggu kenyamanan pembaca.
9.
Sampul bukunya sangat ‘keren’ dalam arti
sangat artistik.
10.
Novel ini dipenuhi majas yang indah yang
membuat pembaca hanyut dalam ceritanya.
11.
Terdapat beberapa pesan yang bermanfaat,
yaitu:
a.
adanya semangat dan obsesif kedamaian dan kebahagiaan
spiritual yang abadi.
b. dalam setiap
perjalanan seorang sufi ada semangat yang khas, yaitu bahwa keberangkatannya
dari dan untuk peningkatan kualitas moral sebagai pemurnian jiwa.
c.
adanya semangat pada usaha peleburan diri pada
kehendak Tuhan.
D.
Kekurangan
Karena
genre novel Sang Musafir adalah genre novel yang saya suka, jujur sangat sulit
untuk mencari atau bahkan menjabarkan kekurangannya. Ini bukan kekurangan novel ini
melainkan
lebih
kepada
kekurangan
saya
dalam
memahami kata-katanya yang
indah dan bermajas tinggi. Andai kemampuan analisa saya lebih tinggi, saya akan mengungkap makna novel ini
dalam-dalam.
E. Kesimpulan
SANG MUSAFIRtampaknya
memang diniatkan pengarangnya (Sadik YalsizuÇanlar) sebagai novel
tasawuf, sebuah genre novel yang di dalamnya sarat
muatan pemikiran dan perenungan sufistik. Selain tokoh utamanya, Ibn ‘Arabi,
salah seorang sufi agung, novel itu sendiri diawali dengan fragmen pertemuan
agung, Sang Musafir dan Sang Filsuf.Sebuah pertemuan simbolik, bagaimana kedua
tokoh itu berdialog dan menegaskan posisi filsafat dan tasawuf.
Fragmen-fragmen berikutnya adalah perjalanan
Ibn ‘Arabi menyusuri satu tempat ke tempat lain, dan dalam setiap tempat itu,
hakikat tasawuf ditemukan, dan risalah-risalah sufi disampaikan. Apa yang
muncul kemudian adalah dunia tasawuf yang sedetik pun, tiada ingin terlepas
dari perasaan cintanya kepada Sang Khalik. Pesan-pesan simbolik tentang
kedekatan aku—Engkau atau engkau—Aku, pada akhirnya adalah usaha
melebur-menyatu, manunggaling kawula gusti, sampai ke Akulah
Allah sebagaimana yang terjadi pada diri Al-Hallaj. Jadi, dalam
perjalanan Ibn ‘Arabi itu, kita kerap diingatkan, bahwa siapa pun, hewan,
makhluk atau apa pun, di belakangnya selalu ada misteri. Misteri itulah yang
akan terus dikejar seorang sufi, meskipun pada akhirnya misteri itu tetap
menjadi misteri.
Saya kira saya perlu memberi apresiasi yang tinggi
pada kerja keras penerjemah yang menghasilkan karya terjemahan yang sungguh
cantik dan asyik. Saya menikmati novel ini seperti membaca novel yang aslinya
berbahasa Indonesia dari karya pengarang Indonesia yang piawai berbahasa
Indonesia. Perhatikan beberapa kutipan berikut:
Kesengsaraan cinta pertama telah menarik Ibn ‘Arabi ke dalam
lembah kecemasan … (hlm. 15),
Terkadang, jalannya memeluk sisi
ngarai … (hlm. 22).
… ia melihat seorang lelaki dengan wajah terbenam dalam
secarik kain … (hlm. 31).
Novel ini penuh ditaburi berbagai majas yang menjadikan bahasa Indonesia begitu
kaya daya ungkap. Tak ada kesan nyinyir memamerkan bahasa yang berbusa-busa.
Boleh jadi karya aslinya memang menyajikan kekayaan bahasa seperti itu. Tetapi,
bagaimana pun juga, kepiawaian penerjemah, sangat menentukan kualitas karya
terjemahannya.Sang Musafir seperti mewakili kepiawaian itu.
Hal lain yang juga perlu disinggung di sini adalah adanya catatan akhir.
Beberapa diberi keterangan sebagai informasi tambahan dari penerjemah, beberapa
lainnya ditandai singkatan (RM). Pertanyaannya, bagian keterangan yang mana
saja yang berasal dari karya aslinya? Jangan-jangan dalam karya aslinya tidak
ada keterangan seperti itu.
Membaca
“Sang Musafir” karya Sadik Yalsizucanlar, kita seolah diajak merasakan dari
jarak dekat bagaimana Ibn ‘Arabi menjalani hidupnya selama beberapa tahun, demi
melayani Fatimah binti Ibnu Al-Muthanna, sufi perempuan paling terkenal di
Andalusia (Spanyol).
Bagi seorang
muslim yang awam seperti saya, novel ini makin menegaskan keawaman saya.
Seperti setetes air di lautan, saya benar-benar merasa berada di hamparan laut
luas dunia tasawuf. Kehidupan profanitas saya seperti tercabik-cabik, yang
membawa saya pada satu kesadaran: bertobatlah segera!
Semoga
kehadiran “Sang Musafir” turut menyemarakkan lagi ranah sastra sufistik yang
pernah berjaya di sini—dulu sekali—saat kisah para wali belum menjadi legenda.