Entri yang Diunggulkan

Tips Agar Percaya Diri Dan Tidak Pemalu Di Depan Orang Banyak

Percaya diri merupakan salah satu fa ktor penting menggapain kesuksesan dalam melakukan segala sesuatu. Percaya diri adalah suatu hal yang ...

Kamis, 28 April 2016

Resensi Novel Sang Musafir Sadik Yalsizuçanlar



SANG MUSAFIR
Karya: Sadik Yalsizuçanlar

logo.jpg

Oleh:
Nama: Siti Robi’ah
Kelas: 10

YAYASAN PERMATA SARI
SMA ISLAM CIKAL HARAPAN 2
Citra Indah City Jalan Raya Cileungsi-Jonggol km. 23,2, Bogor 16830
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Resensi novel Sang Musafir
Disahkan dan disetujui pada:
Hari         :________________________
Tanggal   :________________________

Menyetujui,

Pembimbing Akademik,


Atik Ilmana, S.Pd
NIK. E14H6-030
Pembimbing Resensi,


Atik Ilmana, S.Pd
NIK. E14H6-030


RESENSI BUKU SANG MUSAFIR
A.   Identitas Buku
Judul buku                  : Sang Musafir
Penulis buku               : Sadik Yalsizuçanlarini
Penerbit buku             : Noura Books (PT. Mizan Publika)
Kota terbit                  : Jakarta
Tahun terbit                : 2015
Tebal buku                  : 321 halaman
Tebal buku                  : 13 x 20,5 cm
Jumlah halaman          : 332
Cetakan                      : Pertama, Februari 2015
B.   Sinopsis
        Novel Sang Musafir merupakan novel terjemahan karangan Sadik Yalsizuçanlarini yang diterjemahkan ke beberapa bahasa. Salah satunya bahasa Indonesia. Inge Suhono—penerjemah Indonesia—berhasil menerjemahkan dengan bahasa yang tidak mengurangi keindahan gaya bahasa sang pengarang.
Pada abad ke 13 M, sejarah merekam kehidupan dua manusia agung yang dilahirkan tanah sarat keajaiban, mitos dan misteri, Andalusia (kini Spanyol) yang mengagumkan. Keduanya tampil ke muka peradaban Islam sejak belia. Mereka adalah Ibn Rusyd dan Ibn ‘Arabi. ‘Sang Musafir’ dalam buku ini adalah Ibn ‘Arabi dan ‘Sang Filsuf’ adalah Ibn Rusyd.
Dalam dunia mistik Islam, Ibn ‘Arabi atau Sang Musafir, lebih dikenal sebagai Syaikh Al-Akbar. Gelar agung dari nama lahir yang disandangnya, 'Abū 'Abdillāh Muḥammad ibn 'Alī ibn Muḥammad ibn `Arabī. Ia lahir di Murcia, Seville, Andalusia, pada 17 Ramaḍhān 560 H atau 25 Juli 1165 M.
Selain kedua tokoh besar tersebut, ada juga Fatimah yang merupakan ibu angkat Sang Musafir yang sangat mulia. Kedekatannya dengan Tuhan tak perlu ditanya, karena tidak ada orang yang sanggup menggambarkannya. Meski umurnya telah menginjak kepala sembilan, kecantikan dan kelembutan wajahnya mengatakan bahwa usianya masih 20-an. Bahkan Ibn ‘Arabi pun merasa terpana jika melihat wajah ibunda asuhnya itu.
Fatimah merasa anak asuhnya itu adalah calon orang besar. Bahkan di umurnya yang masih sangat muda, ia telah dimabuk cinta Yang Maha Kuasa. Sungguh manusia yang langka.
Berikut adalah sinopsis singkatnya:
Kabar itu sungguh menggelisahkan Sang Filsuf—Ibn Rusyd. Mimpi mistikal yang dialami pemuda 19 tahun itu—Sang Musafir-- jadi buah bibir di Seville, meluas hingga ke Fez di Maroko. Lalu, harapan Sang Filsuf merekah saat pemuda yang lebih senang menjadi musafir itu mengunjunginya. Namun malang bagi Sang Filsuf, usai Pertemuan Agung tersebut, ia justru menanggung derita kesedihan—galaba—tak terperi karena jawaban yang dilontarkan Sang Musafir.. Sang Musafir membenamkan pencapaian falsafahnya hanya dengan tiga kata, “Ya,” “Ya,” dan “Tidak.” 
Jadi, itu sajakah

C.   Kelebihan
Setelah membaca novel karya Sadik Yalsizuçanlarini ini, terdapat beberapa kelebihan yang saya temui, yaitu:
1.      Kisah bertema perjalanan yang terinspirasi dari kisah Ibn ‘Arabi dan Ibn Rusyd ini membuat saya tertarik untuk membacanya sejak pertama kali saya melihat namanya di cover belakang buku. Jujur saya belum pernah menjumpai nama Ibn ‘Arabi tetapi telah sering mendengar nama Ibn Rusyd dari kisah-kisah ahli ilmu pengetahuan dan teknologi islam. Maka dari itu, rasanya buku ini sangat memikat minat baca saya. Bahkan setelah saya membaca buku ini saya semakin mencintai sosok Ibn Rusyd dan terutama sang tokoh utama, Ibn ‘Arabi.
2.      Cara Sadik Yalsizuçanlarini menulis kisah kehidupan kedua tokoh besar tersebut sangat halus dan berhasil mengguratkan kisah tersebut dengan epik dan modern.
3.      Bagi penjelajah mistik Islam, novel ini menyuguhkan secara gamblang visi Ibn ‘Arabi. Tentang perjalanan spiritualnya mencapai kematangan ruhani menjadi Manusia Sempurna (al-Insan al-Kamil).
4.     Kekuatan novel ini terletak pada kemampuan luar biasa Sadik menggunakan anekdot, gambar, perumpamaan, teka-teki misteri, kedalaman filosofis, modernitas, yang semuanya meluap dalam narasi puitis. 
5.      Penggambaran latar tempat dalam novel ini sangat jelas dan gamblang sehingga membuat saya selaku pembaca mudah berimajinasi.
6.      Novel ini menggabungkan dua dunia besar yaitu dunia filsafat dan dunia sastra. Ini sungguh mengagumkan. Saya telah beberapa kali membaca buku semacam ini. Salah satunya adalah novel Dunia Sophie karya Jostein Gaarder.
7.      Walaupun ini adalah novel terjemahan tapi tidak merusak keindahan bahasa yang seharusnya ada padanya.
8.      Ukuran buku, jenis font, dan ukuran font cukup baik karena tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil sehingga tidak mengganggu kenyamanan pembaca.
9.      Sampul bukunya sangat ‘keren’ dalam arti sangat artistik.
10.  Novel ini dipenuhi majas yang indah yang membuat pembaca hanyut dalam ceritanya.
11.  Terdapat beberapa pesan yang bermanfaat, yaitu:
a.       adanya semangat dan obsesif kedamaian dan kebahagiaan spiritual yang abadi.
b.      dalam setiap perjalanan seorang sufi ada semangat yang khas, yaitu bahwa keberangkatannya dari dan untuk peningkatan kualitas moral sebagai pemurnian jiwa.
c.       adanya semangat pada usaha peleburan diri pada kehendak Tuhan.

D.   Kekurangan
Karena genre novel Sang Musafir adalah genre novel yang saya suka, jujur sangat sulit untuk mencari atau bahkan menjabarkan kekurangannya. Ini bukan kekurangan novel ini melainkan lebih kepada kekurangan saya dalam memahami kata-katanya yang indah dan bermajas tinggi. Andai kemampuan analisa saya lebih tinggi, saya akan mengungkap makna novel ini dalam-dalam.

E.   Kesimpulan
SANG MUSAFIRtampaknya memang diniatkan pengarangnya (Sadik YalsizuÇanlar) sebagai novel tasawuf, sebuah genre novel yang di dalamnya sarat muatan pemikiran dan perenungan sufistik. Selain tokoh utamanya, Ibn ‘Arabi, salah seorang sufi agung, novel itu sendiri diawali dengan fragmen pertemuan agung, Sang Musafir dan Sang Filsuf.Sebuah pertemuan simbolik, bagaimana kedua tokoh itu berdialog dan menegaskan posisi filsafat dan tasawuf.

Fragmen-fragmen berikutnya adalah perjalanan Ibn ‘Arabi menyusuri satu tempat ke tempat lain, dan dalam setiap tempat itu, hakikat tasawuf ditemukan, dan risalah-risalah sufi disampaikan. Apa yang muncul kemudian adalah dunia tasawuf yang sedetik pun, tiada ingin terlepas dari perasaan cintanya kepada Sang Khalik. Pesan-pesan simbolik tentang kedekatan aku—Engkau atau engkau—Aku, pada akhirnya adalah usaha melebur-menyatu, manunggaling kawula gusti, sampai ke Akulah Allah sebagaimana yang terjadi pada diri Al-Hallaj. Jadi, dalam perjalanan Ibn ‘Arabi itu, kita kerap diingatkan, bahwa siapa pun, hewan, makhluk atau apa pun, di belakangnya selalu ada misteri. Misteri itulah yang akan terus dikejar seorang sufi, meskipun pada akhirnya misteri itu tetap menjadi misteri.

Saya kira saya perlu memberi apresiasi yang tinggi pada kerja keras penerjemah yang menghasilkan karya terjemahan yang sungguh cantik dan asyik. Saya menikmati novel ini seperti membaca novel yang aslinya berbahasa Indonesia dari karya pengarang Indonesia yang piawai berbahasa Indonesia. Perhatikan beberapa kutipan berikut:
            Kesengsaraan cinta pertama telah menarik Ibn ‘Arabi ke dalam lembah kecemasan … (hlm. 15),
Terkadang, jalannya memeluk sisi ngarai … (hlm. 22).
… ia melihat seorang lelaki dengan wajah terbenam dalam secarik kain … (hlm. 31).
            Novel ini penuh ditaburi berbagai majas yang menjadikan bahasa Indonesia begitu kaya daya ungkap. Tak ada kesan nyinyir memamerkan bahasa yang berbusa-busa. Boleh jadi karya aslinya memang menyajikan kekayaan bahasa seperti itu. Tetapi, bagaimana pun juga, kepiawaian penerjemah, sangat menentukan kualitas karya terjemahannya.Sang Musafir seperti mewakili kepiawaian itu.
            Hal lain yang juga perlu disinggung di sini adalah adanya catatan akhir. Beberapa diberi keterangan sebagai informasi tambahan dari penerjemah, beberapa lainnya ditandai singkatan (RM). Pertanyaannya, bagian keterangan yang mana saja yang berasal dari karya aslinya? Jangan-jangan dalam karya aslinya tidak ada keterangan seperti itu.
Membaca “Sang Musafir” karya Sadik Yalsizucanlar, kita seolah diajak merasakan dari jarak dekat bagaimana Ibn ‘Arabi menjalani hidupnya selama beberapa tahun, demi melayani Fatimah binti Ibnu Al-Muthanna, sufi perempuan paling terkenal di Andalusia (Spanyol).
Bagi seorang muslim yang awam seperti saya, novel ini makin menegaskan keawaman saya. Seperti setetes air di lautan, saya benar-benar merasa berada di hamparan laut luas dunia tasawuf. Kehidupan profanitas saya seperti tercabik-cabik, yang membawa saya pada satu kesadaran: bertobatlah segera!
Semoga kehadiran “Sang Musafir” turut menyemarakkan lagi ranah sastra sufistik yang pernah berjaya di sini—dulu sekali—saat kisah para wali belum menjadi legenda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar